Rabu, 07 November 2012

BHUANA AGUNG , BHUANA ALIT BESERTA CERITANYA



I.                  Terjadinya Bhuwana Agung

Bhuwana Agung dulunya tidak ada lalu ada, kemudian tidak ada lagi dan demikian seterusnya. Disebut masa Srsti atau Brahma Diwa saat alam semesta ada (siang hari Dewa Brahma). Disebut masa Pralaya atau Brahmakta saat alam semesta tidak ada (malam hari Dewa Brahma). Proses tercipta Bhuwana Agung berlangsung secara berjenjang, dari jenjang halus (Niskala) sampai jenjang kasar (Sekala). Pada mulanya Bhuwana Agung diciptakan oleh Tuhan yang bergelar Rudra. Beliau mempergunakan satu maya yang memiliki beraneka tenaga. Dari maya ini muncul
Tri Guna :
1.   Sattwan
2.   Rajas
3.   Tamas
Melalui Maya yang diliputi Tri Guna maka bergeraklah unsur-unsur yang menjadikan Bhuwana Agung antara lain Pramanu, akasa, Kola dan Dik. Meraka berputar dan berubah masing-masing menuju pada posisinya sehingga muncul dunia, bintang, matahari, bulan dan planet-planet.
Setelah proses terbentuknya Bhuwana Agung melalui proses evolusi dari Paramanu dan Akasa maka Tuhan (bergelar Rudha) mengisi alam semesta dengan kehidupan.
Proses Terjadinya Bhuana Alit

II .Terjadinya Bhuwana Alit
Asal mula Bhuwana Alit (manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan) pada dasarnya sama.Makhluk hidup pertama diciptakan adalah Stawara (Tumbuhan), golongan Eka Pramana.Trana: Bangsa rumput yang hidup di air dan di darat Lata: Bangsa tumbuhan menjalar di tanah dan di pohon Taru: Bangsa semak Gulma: Bangsa pohon berkayu dan berongga Janggama: Bangsa tumbuhan yang hidupnya menumpang  pada pohon lain Makhluk hidup kedua diciptakan adalah Marga Satwa (Hewan), golongan Dwi Pramana. Swedaya: Bangsa binatang satu sel yang hidup di air Andaya: Bangsa binatang yang bertelur, hidup di air, darat dan udara
Jarayuda: Bangsa binatang yang menyusui, pemakan rumput dan pemakan daging
Makhluk hidup ketiga diciptakan adalah Nara Marga (Manusia), golongan Tri Pramana.

Nara Marga: Manusia binatang, berbadan manusia dan berkepala
singa
Wamana: Manusia kerdil ,Jatma Manusia: Manusia sempurna

III. Contoh Kutipan Cerita Tentang Hhuanan Agung Bhuana dan Alit
Pemutaran Mandaragiri

Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para Dewa dan asura (rakshasa) bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, "Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksera (Kserasagara), sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!"
Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nārāyana, berangkatlah para Dewa dan asura pergi ke laut Ksera. Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya. Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) raksasa bernama Akupa yang konon katanya sebagai penjelmaan Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan para asura dan rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak asura dan rakshasa kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura dan rakshasa. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.
Relief dari Angkor Wat, Kamboja, menampilkan pemutaran Mandara Giri: Wisnu di tengah, awatara beliau yang berwujud Kurma di bawah, para asura dan Dewa di sebelah kiri dan kanan.

Timbulnya racun
Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sanskerta: Nila: biru, Kantha: tenggorokan). Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:
Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura dan rakshasa tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para asura dan rakshasa ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura dan rakshasa dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.

Perebutan tirta amerta
Melihat tirta amerta berada di tangan para asura dan rakshasa, Dewa Wisnu memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik tersebut menghampiri para asura dan rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu. Karena tidak sadar terhadap tipu daya, mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini. Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal itu, para asura dan rakshasa menjadi marah. Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan asura dan rakshasa. Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Dewa Wisnu memunculkan senjata cakra yang mampu menyambar-nyambar para asura dan rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Dewa.
Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Dewa Wisnu, dan di sana mereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang rakshasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Hal tersebut diketahui oleh Dewa Aditya dan Chandra, yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu kemudian mengeluarkan senjata chakranya dan memenggal leher sang rakshasa, tepat ketika tirta amerta sudah mencapai tenggorokannya. Badan sang rakshasa mati, namun kepalanya masih hidup karena tirta amerta sudah menyentuh tenggorokannya. Sang rakshasa marah kepada Dewa Aditya dan Chandra, dan bersumpah akan memakan mereka pada pertengahan bulan.

Dikutip dari Kurma Purana

0 komentar:

Poskan Komentar